Feeds:
Posts
Comments

Rabu 4 Mei, kami berdua mendatangi Istana Gyongbokgung. Pagi-pagi kami berangkat dengan kereta, kali ini tidak terlalu lama karena lokasinya masih di pusat kota Seoul. Entah memang sudah diatur atau tidak, patung Raja Sejong berukuran raksasa langsung menyambut kami begitu keluar dari stasiun subway. Dia dikenal karena jasanya di bidang teknologi, militer, dan budaya. Beliau inilah yang membuat dan menyebarluaskan Hangul, karakter huruf Korea yang digunakan hingga hari ini. Tak jauh dari sana terdapat patung Laksamana Yi Sun Shin, salah satu pahlawan perang negeri ginseng ini, yang tak kalah gagahnya.

DSCF9554

Patung Raja Sejong

DSCF9505

Berpose di depan patung Yi Sun Shin

DSCF9546

Gwanghwamun Square

Puas menikmati pemandangan di sekitar Gwanghwamun Square, kami berjalan menuju Istana Gyongbokgung yang terletak di belakang patung Raja Sejong. Kami sangat beruntung karena bisa melihat seremoni pergantian penjaga istana dari dekat. Walaupun judulnya cuma ganti shift tapi semua dilakukan dengan elegan. Istana ini adalah salah satu spot wisata favorit setiap turis. Jadi jangan heran melihat manusia tumpah ruah memenuhi setiap penjuru kompleks istana. Lucunya, banyak gerombolan pelajar sekolah yang datang ke sana dengan memakai hanbok warna-warni. Niat abis.

DSCF9565

Istana Gyongbokgung dengan latar belakang Gunung Bugaksan

Royal guard changing ceremony

DSCF9584

Seluruh penjuru istana dipenuhi turis

Geng anak sekolah yang berhanbok ria

DSCF9598

Kolam di tengah kompleks Istana Gyongbokgung

Dari Istana Gyongbokgung kami pergi menuju Bukchon Hanok. Yang spesial di sini adalah rumah warga masih dijaga keasliannya dari dahulu kala. Jalan-jalannya juga masih sempit sehingga kesan jadulnya masih sangat terasa. Kami tidak lama berada di sini, hanya berfoto-foto secukupnya. Kemudian kami melangkahkan kaki menuju Insadong. Nah, lokasi ini juga sangat menarik. Terutama bagi turis yang ingin membeli oleh-oleh buat teman kerabat di tanah air. Sepanjang ruas jalan di Insadong dipenuhi oleh penjual pernak-pernik serba Korea seperti gantungan kunci, boneka, kartu pos, topi, dan kaos. Sebagian besar harga barang di sini lebih murah daripada di Myongdong -silahkan dicatat bagi para pemburu oleh-oleh. Namun, kami tidak melihat banyak pedagang yang menjual kosmetik di sini. Di Insadong kami menemukan tourist center yang menyewakan hanbok dengan harga murah. Lumayan buat yang pengen berpose dengan baju khas Korea. Staf di sana fasih berbahasa Inggris dan sangat membantu dalam memilih baju yang cocok untuk kita.

Bukchon Hanok

DSCF9680

Suasana di Insadong

DSCF9663

Ssamzigil, pertokoan bertema unik di kawasan Insadong

Berpose dengan hanbok di Insadong Tourist Information Center

Putri raja dan pengawalnya

 

Insadong, lokasi terbaik untuk belanja oleh-oleh

Dari Insadong kami melanjutkan perjalanan ke Itaewon. Kawasan ini banyak dihuni warga non-Korea seperti Turki, India, dan Malaysia. Kabar baiknya di sini ada banyak restoran halal, sesuatu yang susah ditemui sejak kedatangan kami di Korea. Selain itu di sini jugalah kita bisa menemui Seoul Central Mosque. Kami solat asar sembari melepas lelah di mesjid tersebut. Di sana kami bertemu dengan orang Indonesia yang juga menghabiskan long weekend di Korea. Ternyata mereka sudah mengunjungi Pulau Jeju dan Busan sebelum datang ke Seoul. Usai ngobrol panjang lebar, kami kembali ke penginapan berhubung hari sudah gelap. Malamnya, kami (lagi-lagi) menyusuri jalan di Myongdong untuk membeli oleh-oleh. Resmilah kami menjadi anggota AGM (Anak Gaul Myongdong).

DSCF9681

Tteokpokki+octopus di Itaewon

DSCF9688

Bulgogi di restoran halal Itaewon

Seoul Central Mosque

DSCF9698

Lokasi mesjid berada di atas bukit membuat kita bisa melihat seluruh penjuru kota

DSCF9706

Pemandangan dari halaman Seoul Central Mosque

Keesokan harinya kami pergi ke Ihwa Mural Village. Kelebihan desa ini adalah banyaknya mural atau lukisan yang menghiasi sudut desa. Kesan unik dan artistik sangat terasa di sini. Bisa dibilang lokasi ini sangat instagrammable. Kami pun tak puas-puas berfoto di sini. Meskipun kawasan ini terbuka untuk turis namun kita sebaiknya tidak membuat keributan karena lokasi ini masih dipadati rumah warga.

Nggak ada habisnya foto-foto di Ihwa Mural Village

Setelahnya kami menuju lokasi wisata yang tak kalah populer, N Seoul Tower atau Namsan Tower. Ada banyak akses menuju Namsan Tower, salah satunya dengan menggunakan cable car. Lokasinya tidak jauh dari penginapan kami sehingga kami cukup berjalan kaki ke sana. Meskipun begitu, jalan menanjak seperti mendaki bukit cukup membuat kami berkeringat di tengah hawa dingin kota Seoul. Tak cukup sampai situ, ternyata cable car sangat diminati turis sehingga kami harus mengantri cukup lama. Cable car yang digunakan ternyata berkapasitas besar. Sekali angkut bisa memuat hingga 30 orang. Selama perjalanan kami juga bisa memandang seluruh penjuru kota Seoul. Luar biasa.

Perjuangan mengantri cable car

DSCF9837

DSCF9839

Pemandangan kota Seoul dari cable car

Namsan Tower dikenal karena terdapat spot untuk turis memasang gembok cinta. Konon, pasangan yang meletakkan gembok di sana dan membuang kuncinya maka cintanya akan abadi. Minimal gemboknya yang ‘abadi’ karena nggak bisa dibuka lagi. Saat kami tiba di sana ada pertunjukan untuk para pengunjung, semacam atraksi ‘memutar piring dengan stik’. Mereka juga mengajak beberapa penonton cilik untuk bergabung dengan atraksi mereka. Setelah puas berkeliling, kami ke area cable car untuk turun kembali.

DSCF9847

DSCF9850

Spot pemasangan gembok cinta

Pohon gembok di Namsan Tower

DSCF9861

Nggak mau kalah ikutan masang gembok

DSCF9873

‘Gazebo’ untuk tempat berteduh

IMG_4727

Bangku cinta -karena banyak yang foto berdua di sini

DSCF9876

Para turis asyik bersantai di kompleks Namsan Tower

IMG_4731

Grafiti unyu di perjalanan turun dari Namsan Tower

Untuk menutup hari, kami berkunjung ke Hongdae. Kawasan ini dikenal sebagai tempat nongkrong anak muda. Tak mengherankan karena ada banyak universitas di sana. Lokasi ini sangat cocok untuk wisata kuliner karena banyaknya restoran dan kedai bertema unik. Kami mencicipi tteokpokki dan takoyaki yang sangat enak di sana. Mungkin kami bakal borong ke Indonesia kalau bisa.

Hongdae, kawasan tempat nongkrong anak muda

Akhirnya kami harus pulang ke Indonesia di tanggal 6 Mei. Empat hari adalah waktu yang terlalu singkat untuk keliling Seoul. Mungkin lebih puas kalau bisa menghabiskan waktu 2 minggu di Korea (sekalian ke Jeju). Meskipun begitu perjalanan ini sangat menyenangkan bagi kami yang baru pertama kali pergi keluar negeri. Secara umum kami tidak menemukan masalah berarti di sana. Kualitas transportasi umum sangat baik dan mudah dipahami turis asing, kotanya relatif aman dari pencuri, serta warganya ramah dan helpful meskipun anak mudanya relatif lebih cuek. Mungkin yang sedikit ‘pe er’ adalah tidak semua orang bisa berbahasa inggris dan mengerti huruf latin seperti yang kita gunakan, mayoritas hanya memahami huruf hangul, sehingga agak menyulitkan saat bertanya lokasi dan arah di peta.

DSCF9928

Sampai jumpa lagi Korea!

 

Baca juga : Catatan Liburan Korea – Part 1

Tahun ini saya akhirnya berkesempatan jalan-jalan ke luar negeri. Tujuannya : Korea! Korea Selatan pastinya, kalo ke utara masih ribet. Awalnya saya ‘dikomporin’ istri saat ada tiket promo AirAsia di pertengahan 2015. Bermodal nekat dan isi celengan yang nggak seberapa, kami pun membooking perjalanan PP Jakarta-Seoul tanggal 1-6 Mei 2016. Namanya ngejar tiket promo harus sedikit gambling. Padahal waktu itu kita nggak tahu setahun kemudian bakal gimana, bisa jadi ada urusan kerjaan di tanggal yang sama. Tapi masa bodo. Tuhan bersama orang yang haus kasih sayang jalan-jalan.

Satu tahun berlalu. Setelah mengurus hal yang diperlukan seperti itinerary, reservasi hotel, dan visa, kami berangkat ke Korea. Diwarnai drama ‘ditinggal connecting flight akibat delay’ yang pelik, kami tiba di penginapan tanggal 2 Mei malam. Meleset dari rencana yang seharusnya tiba di pagi hari. Kami pun tidak membuang-buang waktu lagi. Berhubung penginapan kami berada di Myongdong, kami memutuskan berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan di kawasan tersebut.

Meskipun sudah setengah 9 malam, Myongdong masih dipenuhi turis lokal dan mancanegara. Sepanjang kami berjalan ada banyak toko fashion dan kosmetik. Harganya sangat bervariasi dari yang murah sampai yang mahal. Bisa dibilang di sini adalah surganya wanita. Kaum hawa yang berkunjung ke sini pasti goyah imannya untuk belanja barang kosmetik seperti bedak, lipstik, masker, dan printilan lainnya yang saya sendiri nggak tau namanya. Para pemilik toko tampaknya sudah menyadari fenomena ini dan melihatnya sebagai peluang…dengan menjual koper berukuran besar. Tujuannya adalah ‘memfasilitasi’ pembeli kalap yang memborong kosmetik untuk dibawa pulang ke negaranya.

Di sana juga banyak ditemui pedagang kaki lima. Ada yang menjajakan makanan, payung, topi, tas, pernak-pernik, hingga kaos kaki unyu. Kami mencicipi ttokpokki dan odeng (dibikin langsung di Korea!) sembari mengganjal perut. Tak jauh dari situ ternyata ada yang menjual red bean taiyaki. Gurihnya adonan dan manisnya kacang merah bercampur dengan sempurna dan berbeda dari yang lain. Harusnya kami menanyakan resepnya. Untuk melengkapi acara cemal cemil, kami juga membeli kimbap (nasi kepal) isi tuna. Ada juga varian nasi goreng. Meskipun tampilan luarnya biasa saja, ternyata bikin nagih juga.

IMG_4039

Mampir ke kedai ttokpokki dan odeng

IMG_4041

Ada rasa red bean, sweet potato, dan cheese

Keesokan harinya kami berangkat ke Nami Island. Lokasi yang jauh di luar kota Seoul membuat perjalanan ke sana memakan waktu cukup lama, nyaris 2 jam. Nami Island sendiri berada di kawasan Gapyeong. Berbeda dengan Seoul yang sangat metropolitan dengan banyaknya gedung bertingkat dan pusat perbelanjaan, Gapyeong bernuansa pedesaan yang sangat kental. Ketika mendekati tujuan kami melihat banyak kebun dan greenhouse di sepanjang lintasan kereta.

DSCF9314

Kebun dan greenhouse di Gapyeong

Setibanya di Stasiun Gapyeong, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan tour bus. Sistemnya adalah shuttle service, jadi bis tersebut mengantarkan turis ke titik-titik wisata yang ada di Gapyeong seperti Nami Island, Petite France, dan Morning Calm Garden. Untuk menuju Nami Island kami harus menyebrang dengan kapal feri selama 5 menit karena lokasinya terpisah dari daratan utama. Di sana kami disambut pemandangan taman raksasa indah yang dipenuhi pohon besar dan bunga berwarna-warni. Istri saya bilang di sana adalah lokasi syuting drama korea legendaris, Winter Sonata. Kami pun menyempatkan diri berfoto di depan patung pemeran utama drama tersebut. Biar makin romantis hehe… Kebetulan saat itu ada ibu-ibu turis dari Indonesia yang bisa memfoto kami berdua (tentunya mereka balik minta tolong difotoin).

DSCF9416

 

DSCF9427

Kedai makanan di Nami Island

DSCF9455

Foto-foto proses syuting Winter Sonata

DSCF9462

Di depan patung Winter Sonata

 

Karena hari semakin sore kami melanjutkan perjalanan ke Petite France. Fans reality show Running Man mungkin familiar dengan tempat ini karena pernah digunakan sebagai lokasi syuting di episode awal. Saya ingat persis karena itulah episode pertama yang saya tonton (Song Joong Ki masih ada sebagai salah satu hostnya). Suasana di sana dibuat menyerupai desa klasik di Prancis. Bangunan dicat dengan warna cerah dan di dalamnya banyak memorabilia kuno khas negeri anggur. Dan beruntungnya kami bertemu dengan musisi akordeon yang sedang memainkan lagu Champs Elysees. Makin kerasa Prancis-nya (bukan prapatan ciamis).

IMG_4209

Little Prince

IMG_4229

Piring cantik ala Prancis

IMG_4215

IMG_4196

Bangunan dibuat bergaya Prancis klasik dan berwarna cerah

IMG_4255

IMG_4235

Abang akordeon yang sekilas mirip Jackie Chan

 

Setelah membeli oleh-oleh, kami kembali ke stasiun untuk pulang ke penginapan. Kereta yang berangkat dari Gapyeong sangat jarang sehingga kami harus menunggu sekitar 30 menit sampai kereta tiba. Malamnya kami habiskan untuk kembali menelusuri Myongdong. Tempat ini memang menarik dijadikan spot jalan-jalan malam. Banyak hal unik yang bisa dijadikan objek foto. Salah satunya boneka Brown raksasa di toko merchandise LINE. Malam semakin larut dan akhirnya kami kembali ke penginapan untuk beristirahat.

IMG_4272

Brown super besar

To be continued

 

Baca juga : Catatan Liburan Korea – Part 2

Awalnya yang membuat saya tertarik membeli buku ini adalah judulnya yang nggak biasa. Terdengar aneh tapi menggoda saya untuk mengambilnya. Dan kali ini insting saya benar. Novel ini benar-benar beda.

Buku ini mengisahkan seorang kakek bernama Allan Karlsson yang akan berulang tahun ke 100 pada tahun 2005. Meski begitu justru dia-lah yang paling tidak ingin datang ke perayaan ultah-nya di panti jompo tempat dia tinggal. Kaburlah dia dari sana dengan melompat keluar jendela kamarnya. Tanpa disangka misi kabur itu membuat dirinya menjadi buruan polisi dan geng sindikat narkoba Swedia. Gimana bisa?

the-100-year-old-depan

Diceritakan bahwa Allan punya sifat yang out of the box. Hal ini dipertegas dalam kisah flashback dirinya yang lahir di awal tahun 1900-an dan bekerja di pabrik bahan peledak. Pada masa itu peperangan dan politik sedang bergejolak di mana-mana. Meski Allan adalah orang yang sangat apatis terhadap politik, dia merasa keahliannya membuat bom akan berguna. Pada akhirnya skill langka inilah yang membuatnya berkeliling dunia sekaligus berteman dengan pemimpin dunia yang eksis di zaman itu. Jendral Franco, Mao Zedong, Stalin, Winston Churchill, Charles de Gaulle, sampai Richard Nixon disebut-sebut dalam novel ini. Belum puas? Nama Presiden Soekarno dan Soeharto serta kondisi politik Indonesia di tahun 60-an juga ikut nongol.

Kisah dalam buku ini penuh muatan politik tapi dibawakan dengan jokes segar sehingga nggak bikin bosen. Bahkan kita jadi bisa tahu politik dunia karena timeline yang ada pada novel ini sesuai dengan sejarah sesungguhnya. Saya menilai novel ini bergaya satir dengan bumbu black comedy yang cerdas, namun mudah dipahami banyak orang. Bacaan yang pas untuk mengisi weekend kita. Oh ya, di bagian akhir diceritakan Pak SBY tertarik menggunakan jasa Allan untuk membuat bom atom (?!!)

Akan selalu ada jokes di sekeliling kita. Jokes di sini maksudnya yang bikin ketawa, orang yang ngedengerin hepi, dan nggak kelewatan/sewajarnya. Good jokes. Masalahnya nggak semua bisa dimasukkan dalam kategori ini. Ada juga bad jokes. Cara paling gampang nyari becandaan macem ini : nyalain TV. Pimpinan yang makin pencitraan, wakil rakyat yang minta duit aspirasi (dari rakyat), pejabat korupsi nggak tau malu. Kadang bikin ketawa sih, lucu aja. Cari duit gitu amat. Sayangnya udah ngelewatin batas, itu yang bikin nggak terlalu lucu.

Di saat hampir berpikir ‘pasti nggak ada deh tipe becandaan yang lain’, saya menemukannya. Becandanya bos di kantor. Atasan di sini bisa berupa supervisor, team leader, atau manager. Yang satu ini unik. Kalo bos lagi ngomong, pasti orang-orang pada ketawa. Pernah beberapa kali saya ikut mendengarkan jokes mereka. Sebenernya nggak lucu-lucu amat, cenderung garing malah. Sedikit terintimidasi? Bisa jadi. Takutnya kalo nggak ikut ketawa si bos tersinggung trus ujung-ujungnya ngaruh ke karir. Kan ada aja tuh bos yang kelewat baper. Dari situ saya menghasilkan suatu teorema. Level kelucuan jokes anda akan meningkat seiring meningkatnya jabatan di kantor. Ini sahih. Sesahih hukum Newton. Menyikapi fenomena ini ada baiknya para bos kembali berpikir ‘apa benar selera humor saya setinggi itu?’.

Dunia kita memang ajaib. Surely we must be lived in funny-bizarre world.

Nampak

Ada kalanya saya harus berhadapan dengan orang yang ingin terlihat hebat. Biasanya mereka bicara di depan orang dengan kemampuan bicara meyakinkan. “Saya akan melakukan A, B, C, D..”, “Saya punya ide E, F, G…”, “Saya janji akan menyelesaikan target H, I, J…” umumnya seperti itu. Tapi begitu forum bubar dia seperti lupa apa yang sudah dikatakannya beberapa menit yang lalu. Dia malah nggak melakukan apa yang dia katakan. Lebih parahnya, menyuruh orang lain melakukannya supaya dia bisa mengklaim bahwa dia yang sudah mengerjakan itu semua. Dan hebatnya masih ada saja laki-laki seperti itu, harusnya mereka bisa memegang kata-katanya sendiri. Real man should be a man of his words.

Sesungguhnya saya nggak benci dengan orang macam ini. Hanya heran. Untuk apa orang melakukan hal seperti itu. Saya selalu percaya orang akan tahu kualitas kita bila kita bekerja untuk membuktikan diri. People will know you’re good if you are good. Saya nggak percaya sesuatu dengan embel-embel ‘nampak’. Nampak pintar, nampak tahu segalanya, nampak hebat, dan semacamnya. Kata ‘nampak’ identik dengan sesuatu yang sementara. Temporary. Penampilan luar memang bisa menipu orang. Tapi bisa bertahan berapa lama?

Itulah mengapa saya sering membiarkan ketika orang jenis ini in action. Ketika mereka mulai menunjukkan betapa kapabelnya mereka, meskipun work rate mereka nggak seberapa. Selama nggak merugikan saya (kalau iya tentu saya akan langsung berkata ‘tidak’ ke mereka), saya hanya akan menikmati pertunjukan mereka. I enjoyed to see how pitiful they are.

Enjoying Ourself

Bagi sebagian orang hangout dengan teman adalah pilihan menyenangkan di saat punya waktu luang. Emang bener hal sederhana bila dilakukan bersama-sama bisa menghasilkan mood yang beda. Misalnya nongkrong di kafe sambil ngobrol. Yang dipesan mungkin cuma sepiring singkong goreng dan secangkir teh hangat, tapi obrolan seru ngalor-ngidul dengan teman cukup menahan diri duduk manis berjam-jam.

Meski begitu, terkadang ada bagusnya melakukan sesuatu sendirian di waktu luang. Sesekali saya suka makan di luar atau jalan-jalan seorang diri. Ada hal spesial yang bisa saya dapatkan. Saya bisa bebas menentukan makan di mana dan berapa lama saya mau duduk di sana. Saya bisa pergi ke manapun melihat-lihat apa yang saya mau tanpa ada seorang pun yang merasa keberatan.

Saat bersama orang lain kita harus memberikan perhatian pada orang itu. Kecuali mau disebut nggak asik, kita selalu mencoba mendengar dan menanggapi apa yang dikatakan orang yang bersama kita. Di kala sendiri kita nggak perlu melakukan itu. Kita bisa punya kebebasan lebih. Sometimes everyone needs more space for him/herself. Ada kalanya kita harus belajar menikmati keberadaan diri kita sendiri.

Give yourself a break. You’ve been through a lot. Relax your body and mind. Enjoy yourself. You deserve it.