Euforia suporter timnas Indonesia di SUGBK (Stadion Utama Gelora Bung Karno) setelah membungkam Turkmenistan dengan skor 4-3 (agregat 5-4) pada kualifikasi Piala Dunia 2014 Brazil ternyata hanya bertahan dalam hitungan hari. Nyatanya setelah sukses melangkah ke fase berikutnya, dimana Indonesia tergabung dengan Iran, Bahrain, dan Qatar dalam satu grup, Indonesia sejauh ini hanya bisa menjadi lumbung gol dan ladang poin bagi tim lainnya.
Lihat saja hasil 2 pertandingan awal tim merah putih. Diperkirakan bisa mencuri poin di Teheran, Iran, Indonesia malah pulang menanggung malu setelah dipermak 3-0. Kemudian publik berkilah kekalahan itu dinilai wajar karena level permainan kita dan Iran berbeda jauh, indikasinya bisa dilihat dengan adanya beberapa pemain Iran yang bermain di klub Eropa.
Ekspektasi tinggi muncul lagi menjelang matchday 2 dimana kita menjamu Bahrain, yang mana pernah kita kalahkan dengan skor 2-1 di Piala Asia 2007. Dengan level permainan yang dinilai setara, Indonesia optimis bisa mendapat 3 poin di pertandingan ini. Hasilnya? Kembali timnas dipermalukan di depan suporter sendiri dengan skor 2-0. Belum lagi ditambah insiden lemparan petasan dan kembang api ke lapangan atau kalau mau lebih buruk (dan mau lebih jujur) lagi, permainan Indonesia bisa dibilang nggak punya skema yang jelas dan monoton.
ekspektasi minimal : rakyat Indonesia ingin melihat permainan indah seperti di Piala AFF 2010
Publik langsung menghujat timnas. “Pelatih harus dipecat! Kami mau Riedl kembali!”, “Mana permainan indah Indonesia waktu AFF tahun lalu?”, hingga makian macam “Dasar Markus bego! Tangkap yang bener dong bolanya!” meluncur dari mulut orang2. Mungkin kata2 itu meluncur karena besarnya cinta rakyat Indonesia terhadap sepakbola nasional dan nasib timnas Indonesia. Tapi apakah masalah akan selesai hanya dengan makian dan sumpah serapah? Tentu tidak. Meski begitu ada satu pertanyaan besar yang terus berputar di kepala gue melihat semua kekacauan ini.
Apa yang salah di tim ini?
Daripada ikut2an memaki, gue tergerak untuk menganalisis apa yang sebenernya terjadi dan memberikan masukan yang menurut gue paling oke dalam pandangan gue sebagai pecinta sepakbola walaupun gue sejauh ini memahami sepakbola dari media2 seperti televisi, internet, artikel, atau bahkan lewat game manajerial tim sepakbola Football Manager. Tapi jujur dari semua itulah pandangan gue tentang sepakbola jadi lebih terbuka. Oke! Mari kita mulai.
Jelas sebenernya akar permasalahan semua ini adalah kisruh di pimpinan PSSI yang sempat membuat frustasi semua orang beberapa saat yang lalu. Gue nggak akan bahas ini lebih jauh. Meski udah kepilih ketua dan jajarannya serta sempat memberikan harapan baru dengan visi yang lebih baik untuk kelangsungan liga sepakbola di negeri ini, ternyata PSSI yang baru membuat kesalahan yang menurut gue fatal.
Mereka memecat Alfred Riedl, hanya beberapa hari sebelum laga melawan Turkmenistan.
Oke, terserah PSSI mau bilang karena Riedl ternyata selama ini dikontrak oleh pihak tertentu, bukan oleh PSSI, tapi bukan hal yang bijak memecat pelatih hanya beberapa hari dari laga yang menentukan. Apakah MU memecat Sir Alex Ferguson beberapa hari sebelum laga final Liga Champions melawan Barcelona? Hanya orang yang nggak mengerti sepakbola yang melakukannya. Bagaimanapun sebuah tim memerlukan stabilitas internal dan pemecatan pelatih tim bisa merusak hal itu. Padahal kita tahu stabilitas tim Indonesia terjaga dengan baik semasa kepemimpinan Riedl, baik secara taktik, mental, dan kedisiplinan. Ada yang bilang pemecatan terjadi karena ada unsur politik di baliknya, itulah mengapa gue semakin benci dengan politik. Mengapa politik senang mengotori olahraga yang penuh dengan nilai dan pesan mulia seperti sepakbola ini?
orang yang sempat membakar optimisme bangsa ini, sosok yang sekarang dirindukan
Gue menganalisis bahwa inilah akar yang menjadi awal semua tragedi ini. Masalahnya hanya satu, tim ini terganggu stabilitasnya di momen yang sangat tidak tepat.
Akhirnya gue membuat sedikit fantasi. Gue bermimpi seandainya gue menjadi orang yang paling berwenang sama timnas, kira2 apa yang bisa gue kasih di tim yang lagi kacau ini. Dengan ilmu yang gue dapat dari memainkan game Football Manager sejak tahun 2005, inilah perubahan2 yang akan gue lakukan :
1. Menangani tim Indonesia nggak sama dengan melatih tim Jerman, Spanyol, atau Brazil. Ada pendekatan yang berbeda. Pemain2 tim kelas dunia lebih bisa menyesuaikan diri dengan taktik yang diberikan pelatihnya. Itu disebabkan karena pemain2 timnas tersebut kebanyakan bermain di liga Eropa yang memang kuat dasar taktiknya sehingga mereka diharuskan bisa adaptif terhadap perubahan taktik yang ada. Tanpa pemahaman yang baik terhadap taktik, pemain top bisa menemui kegagalan di sepakbola Eropa.
2. Dari poin 1, gue merasa harus meraba potensi apa saja yang bisa digali dari pemain timnas terlebih dahulu. Oleh karena itu, mari lanjut ke poin 3.
3. Di posisi penjaga gawang gue merasa ada 3 nama yang saat ini terbaik di Indonesia :
- Markus Horizon : paling berpengalaman namun sangat sering melakukan kesalahan dasar yang sebenernya nggak boleh dilakukan kiper
- Ferry Rotinsulu : sebenernya punya skill kiper yang paling oke di antara 3 nama ini tapi dia sering cedera, masalah yang membuat dia jadi kiper nomor 2 di timnas
- Kurnia Meiga : dia mungkin punya reflek paling bagus tapi sering punya masalah cedera dan disiplin serta kurang jam terbang.
4. Sebenernya yang paling penting dalam sebuah tim adalah bagaimana kualitas pertahanannya. Pertahanan yang bagus akan mengangkat kepercayaan diri dalam satu tim. Karena sepakbola modern membuat kita menyadari pentingnya sistem pertahanan 4 bek sejajar, maka gue juga akan memilih 4 nama bek yang paling oke saat ini untuk lini pertahanan timnas :
- Hamka Hamzah : bek berpengalaman yang paling kuat di bola udara dan fisik, meskipun sering melakukan blunder
- Charis Yulianto : gue nggak tahu apakah dia masih bermain atau udah pensiun, tapi harus ada bek yang punya kualitas leader dan dia salah satunya. Sebenernya Maman Abdurrahman juga bisa mengisi posisi ini tapi dia sering membuat kesalahan2 dasar
- M. Nasuha : bek kiri yang kuat dalam bertahan dan menyerang, pemain dengan kualitas fisik dan taktik yang oke
- Zulkifli Syukur : bek kanan yang lebih bersifat defensif, meskipun jarang ikut menyerang tapi efektif dalam bertahan.
keceriaan seperti inilah yang membuat SUGBK terus membahana
5. Lini tengah adalah yang paling penting dalam sepakbola. Tim yang menguasai bola lebih banyak berpeluang memenangkan pertandingan. Inget bagaimana Spanyol memenangkan Piala Eropa dan Piala Dunia? Mereka menguasai bola secara dominan, dengan Xavi Hernandez sebagai jendral lapangan tengahnya. Inilah nama2 yang gue pilih :
- Ahmad Bustomi : pemain yang harus ada di midfield versi gue. Dia satu2nya pemain yang bisa menjaga bola paling baik di antara semua pemain Indonesia. Di MU, peran dia seperti Paul Scholes. Kuat dalam bertahan, menjaga keseimbangan, dan jarang melakukan umpan yang sia2. Tipe pemain yang sangat langka di Indonesia
- Bambang Pamungkas : pasti semua heran kenapa nama ini ada di sini. Nggak salah?! Gue tertarik mengubah posisi Bepe ke tengah karena permainannya lebih efektif di lapangan tengah sebagai kreator serangan, dan dia juga sering membantu pertahanan. Maaf buat bang Bepe, tapi faktanya Anda nggak pernah nampak tajam di depan gawang untuk saat ini. Gue cuma sering liat dia mencetak gol di laga persahabatan atau via penalti. Gue juga lebih memilih Bepe karena gue menilai Firman Utina sering membuat pergerakan dan umpan yang sia2
- M. Ilham : sayap kanan yang mencetak gol di Turkmenistan. Tipe pemain sayap klasik yang suka menyisir dari sisi lapangan. Gue lebih memilih dia dari M. Ridwan karena Ridwan terkadang punya emosi yang nggak terkontrol dan kurang punya mental yang tepat di dalam pertandingan
- Boaz Salossa : gue lebih suka dia main sebagai pemain sayap kiri daripada striker karena dia memang sering menyisir dari sisi kiri di Persipura dan dia lebih ke tipe pendribel bola, bukan finisher sejati. Sebenernya juga ada Okto Maniani di posisi ini, tapi dia sering diekspos secara fisik oleh bek lawan karena fisiknya yang kecil dan ditambah dia sering tersandung masalah disiplin.
6. Di posisi penuntas serangan, gue lebih memilih tipe striker ‘pembunuh’ sejati dan tandem dengan tipe berbeda. Inilah pilihan gue :
- Christian Gonzales : satu2nya pemain Indonesia yang bertipe predator kotak penalti. Mungkin usianya sudah melewati masa keemasan tapi insting dan skillnya tidak pernah berubah. Statistik golnya di Liga Indonesia luar biasa. Jarang melakukan pergerakan tapi selalu efektif dalam menyerang. Gue berandai2 seandainya El Loco dinaturalisasi lebih awal ketika dia masih muda mungkin Indonesia nggak akan puasa gelar selama ini karena pemain tipe ini sangat dibutuhkan dalam tim namun jarang dimiliki Indonesia
- Irfan Bachdim : tipe penyerang yang bisa menghubungkan lini tengah dan depan. Punya pemahaman taktik paling bagus di samping Bustomi, karena Irfan pernah bermain di Liga Belanda, dan punya finishing touch yang bagus. Pergerakannya sering membuat pertahanan lawan kacau. Mungkin kekurangan dia adalah inkonsistensi. Solusi lainnya ada Yongki Aribowo yang lebih konsisten, meski kurang punya tactical skill yang baik.
7. Dengan semua pertimbangan di atas dari poin 1-6, gue akan meramu materi2 terbaik yang ada di negeri ini dalam formasi 4-4-2 karena formasi ini menjaga keseimbangan tim, mengandalkan kecepatan (karena sudah dipastikan 101% kita bakal keok kalo main bola atas), dan punya fleksibilitas di sayap serta kekuatan di tengah. Kira2 seperti ini formasinya :
- Kiper
Ferry Rotinsulu
- Bek Kanan – Bek Tengah – Bek Tengah – Bek Kiri
Zulkifli Syukur – Hamka Hamzah – Charis Yulianto – M. Nasuha
- Sayap Kanan – Gelandang Tengah – Gelandang Tengah – Sayap Kiri
M. Ilham – Ahmad Bustomi – Bambang Pamungkas – Boaz Salossa
- Penyerang – Target Man
Irfan Bachdim – Christian Gonzales
Mungkin tulisan ini cuma sekedar pandangan dari seorang penggila bola yang belum punya pengalaman di dunia sepakbola secara langsung. Tapi setidaknya gue pengen menjadi orang yang berpikir dan menganalisis dahulu ketimbang cuma menghujat nggak karuan di kala timnas sedang terpuruk. Dan…gue cuma nggak pengen mencari alasan dengan menyebut bahwa timnas tidak punya pemain yang berkualitas untuk berkompetisi di skala internasional atau menghujat para pemain dengan kalimat “F*ck you all!” ketika tim sedang dalam masa2 sulit. Benar begitu kan coach Wim Rijsbergen?
kalau tidak ada pemain Indonesia yang berkualitas, apa yang kau lakukan Wim? menaturalisasi Lionel Messi?