Libur telah tiba (lagi)! Yap kali ini liburan dengan tajuk Liburan Ramadhan dan Idul Fitri. Nggak perlu dibahas, dikaji, apalagi sampe didemo kenapa ITB nggak langsung ngehantam liburan ini sama liburan semester kemaren yang sebenernya baru berakhir 3 minggu lalu. Yang penting sekarang udah libur deh, yuhuuu.
Ada yang berbeda untuk liburan kali ini. Biasanya gue langsung cabut ke Balikpapan buat lebaran di sana. Untuk kali ini gue bakal ngerayain lebaran di kampung halaman kedua orang tua gue, Tulungagung, karena semenjak merantau ke Balikpapan, orang tua gue belum pernah lebaran di kampung halamannya. Selain itu, udah lebih dari 3 tahun kakek dan nenek nggak pernah ketemu gue dan berkumpul di rumahnya saat lebaran. Karena alasan2 itulah gue akhirnya mengalah dan nggak lebaran di Balikpapan bareng teman2 yang lain.
FYI, meskipun gue asli dari lahir sampe besar di Balikpapan, tapi orang tua gue orang Tulungagung tulen. Yang belum tahu itu di daerah mana, Tulungagung adalah sebuah kota di Jawa Timur. Di sana gue menginap di rumah kakek dan nenek dari ibu.
Akhirnya tanggal 25 Agustus 2011 gue naik bis jurusan Bandung-Kediri, karena nggak ada bis yang langsung menuju ke Tulungagung. Gue berangkat jam 4 sore, sampe di Kediri jam 8 pagi besoknya, ditambah sekitar 2 jam perjalanan menuju tujuan akhir. Tepos banget deh bokong, sempat mati rasa kayaknya. Bagi yang belum pernah nyobain naik bis selama 18 jam, coba deh sekali2. Tingkat kebosanan dan kesintingan akan benar2 teruji karena dijamin kita nggak bakal punya kerjaan, kecuali kalo teman seperjalanan yang duduk di sebelah Anda ternyata adalah Tiffany atau Yuri SNSD. Yah kalo nggak dapet member SNSD, boleh deh personel 7 Icons atau CherryBelle. Nggak ada yang original, yang KW super juga boleh.
Meskipun Tulungagung adalah sebuah kota tapi kakek dan nenek gue tinggal di sebuah desa yang bernama Desa Pakel. Sejauh mata memandang kebanyakan isinya sawah2 dan gunung2. Layaknya sebuah desa, di sini sepi banget. Cuma ada sedikit orang yang lalu lalang di jalanan. Beda banget sama suasana di Bandung. Apalagi kalo dibandingkan sama gimana suasana Dago dekat2 waktu buka.
mejeng dulu sebelum masuk ke dalam Jatim Park
Kebetulan kali ini orang tua ngajakin gue jalan2 sekeluarga ke Malang. Dengan menggunakan mobil, kita semua berangkat ke sana jam setengah 7 pagi. Perjalanan menuju Malang menghabiskan waktu sekitar 3 jam untuk sampai di pusat kota. Meski begitu, tujuan kita adalah mengunjungi Jawa Timur Park yang terletak di Kota Batu. Jadi butuh waktu sekitar setengah jam lagi untuk menuju ke sana. Rencananya kita jalan2 di kota apel itu selama sehari, jadi breng pagi balik sorenya.
Ternyata Jatim Park merupakan tempat rekreasi keluarga yang sangat luas, gue sekeluarga berhasil dibuat pegel2 jalan di sana seharian. Di bagian awal taman ini terdapat miniatur tentang budaya2 di Indonesia, taman ilmu pengetahuan, informasi tentang hewan2 yang interaktif, hingga miniatur sejarah2 Indonesia. Pokoknya berhubungan dengan yang bersifat edukatif deh. Dijamin buat yang punya anak balita atau seumuran anak SD, tempat ini bisa jadi pilihan yang oke banget untuk berlibur. Ditambah wahana permainan di sana yang ‘sumpah gokil abis’. Lumayan deh ada 3-4 wahana permainan yang sukses bikin jantung gue nyaris copot. Kalo dibandingkan sama BCL (Bandung Carnival Land) yang ada di Bandung, jelas lebih oke yang ada di sini. Penataan Jatim Park juga dibuat cukup rapi dan pengelolaannya diatur dengan baik (gue melihat wahana2 senantiasa di-check oleh petugasnya begitu tidak ada pengunjung). Ditambah kebersihan dan kenyamanan fasilitas di sana selalu terjaga. Puas jalan2 seharian, gue akhirnya balik lagi ke Tulungagung.
SUMPAH – semua hal ini sukses bikin perut mules
Di desa ini gue bener2 disuguhkan pemandangan yang kontras dengan di kota, dalam konteks yang positif. Ikatan kekeluargaan di sini sangat erat di antara warganya. Gue dan bapak gue menyempatkan diri solat isya dan taraweh di sebuah masjid di sana. Uniknya, usai solat orang2 berkumpul di teras masjid untuk mendengarkan ceramah dari khatib. Kebetulan waktu itu adalah malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, ternyata warga di sana memiliki tradisi memberi makanan berupa nasi kotak di masa2 itu. Tradisi yang baru gue ketahui, itung2 beramal di malam yang kemungkinan besar adalah malam Lailatul Qadar.
Yang unik lagi, dalam perjalanan pulang dari masjid menuju rumah gue melihat bintang di langit. Tapi setelah dilihat dengan lebih baik ternyata itu bukan bintang karena ‘bintang’ ini memancarkan cahaya warna merah dan biru yang berkelap-kelip. Setelah gue nanya ke bapak, ternyata itu adalah layang2 yang biasa diterbangkan oleh anak2 di sini saat sore hari. Layang2 itu diberi lampu kecil berwarna dengan tenaga dari sebuah baterai kecil, cukup untuk menyalakan lampu semalam suntuk. Suatu keunikan yang baru gue lihat. Gue heran aja mereka bisa menerbangkan layang2 setinggi itu sampe2 gue nganggap itu bintang. Luar biasa. Meskipun di desa ini tidak memiliki langit dengan taburan bintang, tapi anak2 di sini ‘menebar’ sendiri bintang2 ke langit malam.
Di malam takbiran gue juga melihat sesuatu yang tak kalah uniknya. Walaupun di sini merupakan daerah yang sepi namun itu tak membuat antusiasme warganya berkurang dalam merayakan malam takbiran. Sebuah mobil pick up mengangkut warga yang kebanyakan adalah anak kecil sambil mengumandangkan takbir dengan pengeras suara, diiringi tarian barongsai yang meliuk2 dengan anggun di depannya. Nggak sampe situ aja ternyata ada atraksi sepakbola api yang didemonstrasikan sambil berlari2 di tengah jalan (inget, jalanan di sini nggak serame Bandung). Luar biasa. Di kala orang2 di kota (mungkin) sudah kehilangan gairah di malam takbiran, bocah2 ini mampu membuat tradisi ini tetap terjaga dengan caranya sendiri.
Meskipun begitu, ada juga tradisi di sini yang menurut gue (dan ibu gue) kurang cocok dilaksanakan. Orang2 di daerah ini masih melaksanakan tradisi syukuran setiap kali mereka mendapatkan rezeki, dalam konteks yang berlebihan. Misalkan nih, kalo habis panen ngadain syukuran, punya anak ngadain syukuran, anak ulang tahun syukuran lagi, dan masih banyak lagi lah hal2 yang sebenernya nggak perlu dirayakan dengan syukuran. Mungkin dalam setahun 1 keluarga bisa ngadain lebih dari 5 kali syukuran. Secara orang kota aja nggak sesering itu. Lah kalo hidangan makanan yang dibagi2kan itu nasi dengan 3-4 jenis lauk aja sih nggak masalah, di sini umumnya yang dibagikan umumnya nasi dengan 6-7 jenis lauk! Kebayang kan berapa banyak biaya yang mesti dikeluarkan setiap kali ngadain syukuran.
Bagus sih maksud sebenernya, saling berbagi dan bersyukur atas nikmat yang diberi Tuhan, tapi akan lebih baik apabila juga memperhatikan situasi diri sendiri. Padahal patut diketahui bahwa mayoritas warga di sini adalah petani yang penghasilannya nggak seberapa besar. Tapi berhubung sudah menjadi tradisi, kebanyakan masih memaksakan diri saja. Padahal Nabi nggak pernah menyuruh kita untuk memaksakan diri dan sudah memberikan tuntunan momen2 apa aja yang wajib dirayakan dengan syukuran (contoh : aqiqah).
Oh iya, di sini juga banyak terdapat warung makan dengan menu utama sate dan gulai kambing. Sebenernya enak banget sih menu yang satu ini, tapi gue juga rada parno soalnya kalo makannya nggak inget2 daratan. Bisa jadi lemak di perut plus kena darah tinggi bok! Gue nggak mau dong merusak potongan bodi yang sudah sangat memukau ini =p . Apapun, nampaknya orang2 di sini gemar banget menyantap daging kambing.
Mungkin itu tadi hanya secuplik dari banyak fenomena yang bisa gue amati di sini. Masih banyak hal lain yang baru gue lihat. Hal2 tadi juga semakin membuka mata gue lebih luas. Semoga Tuhan terus memberikan kesempatan seperti ini supaya gue bisa terus ‘melihat’ dunia.
alhamdulillah..kesampean juga lebaran dengan kakek nenek+keluarga komplit di kampung



hye..nice to know u.im malaysian but my dad also frm pakel tulungagung..im just found ur blog accidentally.my last vsit were last 6years ago.its been long time..n im hepy can read ur story abt dat,,;))u make me jelousy.hehe.coz i really luv the scene n ‘suasana kampung’ also