Bulan Ramadhan emang bulan di mana orang2 berlomba2 melakukan kebaikan. Bulan yang sangat ditunggu2 sama setiap muslim di dunia ini nggak bisa dipungkiri selalu punya pesona tersendiri.
Bahkan beberapa momen di bulan ini disulap menjadi semacam tradisi yang harus selalu ada tiap kali Ramadhan tiba. Misalnya aja buka bareng yang sekaligus menjadi ajang kumpul2 atau sekedar nongkrong bareng atau sahur on the road yang jadi acara rame2an dan cuma bisa dilaksanakan pas Ramadhan karena 99% manusia bumi akan milih tidur daripada bangun di pagi buta. Kenapa gue bilang tradisi? Karena kebanyakan orang2 melakukan aktivitas ini karena telah terbiasa dari tahun ke tahun dan (mungkin) meninggalkan esensinya sebagai salah satu ibadah. Indikasinya? Banyak aja tuh yang setelah buka bareng nggak solat magrib apalagi solat isya dan solat taraweh.
Tradisi lain yang nggak kalah populer di negara yang emang mayoritas penduduknya muslim ini adalah datang ke panti asuhan. Kalo udah waktunya bulan puasa nih, kayaknya hampir semua panti asuhan nggak pernah sepi dari kunjungan orang2. Biasanya yang dikerjain sewaktu menyambangi panti asuhan ya buka bareng anak2 panti, bakti sosial, penyumbangan donasi berupa uang, buku, atau pakaian layak pakai.
Hal itu juga gue alami di Ramadhan tahun ini bareng anak2 TERRA. Gue dan teman2 yang lain mengunjungi sebuah panti asuhan di daerah Tega Lega, Panti Asuhan Al Hilal namanya. Setelah berjuang menyusup di kemacetan sore hari menjelang buka selama 1 jam, akhirnya kita sampai juga di sana. Kita ke sana cuma modal 2 mobil buat ngangkut barang2 yang mau disumbangkan, sisanya pake motor supaya bisa nyelip2 di jalan.
Agenda pertama kami begitu tiba di panti asuhan itu adalah menunggu Akbar yang nyasar entah ke mana. Dia terpisah dari rombongan soalnya sore itu macet parah mulai dari dekat Pasar Baru sampai Taman Tega Lega. Emang sih papan nama panti asuhan itu juga nggak terlalu kelihatan dari jalan besar karena sedikit terutup sama pohon dan tiang listrik. Setelah kontak2an via hape, akhirnya Akbar sampai juga dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Hiphiphore!
musik angklung yang eksotis dari adik2 Al Hilal
Setelahnya kita semua masuk ke panti asuhan itu. Ternyata kita sudah disambut oleh puluhan anak2 panti asuhan tersebut yang kebanyakan masih duduk di bangku SD meskipun ada yang sudah menginjak bangku SMP atau SMA. Wajah anak2 kecil yang lugu ini membuat kami tertarik untuk berkumpul bersama mereka, sekedar untuk menanyakan nama atau bertanya sudah kelas berapa.
Di awal acara, ada sebuah permainan yang dipandu oleh Wieke untuk anak2 ini. Meskipun gue rada bingung cara mainnya, tapi itu bukan masalah karena ternyata anak2 kecil itu cukup menikmatinya dan itu bisa membuat mereka tertawa riang. Setelahnya, anak2 kecil itu menampilkan kesenian bermain angklung kepada kami. Gue pikir mereka udah pada jago, soalnya angklung2 itu tersusun dengan rapi di dalam panti asuhan sehingga mereka bisa setiap hari berlatih bermain angklung. Ternyata mereka baru belajar dan hasilnya terciptalah lantunan musik yang random. Apapun itu, yang terpenting mereka sudah berani maju dan mencoba memainkan angklung untuk kami. Mereka patut diapresiasi.
Begitu waktu berbuka tiba, kami bersama2 menyantap hidangan ta’jil. Anak2 kecil tersebut dengan bersemangat berebutan makanan yang telah disiapkan. Setelah itu, kami solat magrib berjamaah di masjid dekat panti asuhan itu. Usai solat, kami kembali ke panti asuhan untuk makan besar bersama. Sambil menikmati makanan, kami disajikan penampilan musik dari anak2 TERRA 09 yang menyanyikan lagu Tombo Hati. Kemudian, anak2 kecil ini menawarkan diri untuk memberikan performance dengan bernyanyi. Gue sendiri nggak terlalu tahu mereka nyanyi apa tapi melihat mereka tertawa puas seperti itu cukup membuat gue ikut tertawa, ditambah tingkah mereka yang terkadang kocak dan tak terduga.
anak2 ikut bernyanyi untuk meramaikan (atau menghebohkan?) acara
Di akhir acara, seorang bapak pimpinan panti asuhan memimpin doa bersama. Di tengah2 untaian doa yang berbahasa Arab, tiba2 bapak itu mengucapkan doa yang kurang lebih seperti ini
“Semoga teman2 dari Teknik Geofisika ini dimudahkan dalam segala urusannya..”
“Amin..”, dalam hati gue
“Semoga mereka selalu sukses dalam setiap langkahnya..”
Lagi-lagi, “Amin..”
“Semoga mereka diberi kekuatan dan dimudahkan untuk bisa segera lulus..”
“Amiin!”, mahasiswa tingkat akhir wajib meng-amin-kan doa yang satu ini nih
“..dan apabila mereka belum mendapatkannya, semoga mereka bisa segera menemukan JODOH yang terbaik bagi mereka”
“AMIIIINNN!!”, kali ini dengan penekanan kata yang udah nggak santai. Maklum, mahasiswa STMJ (Semester Tujuh Masih Jomblo).
Bagi yang masih jomblo atau nggak laku2, nggak ada salahnya mencoba berkunjung ke panti asuhan waktu Ramadhan. Siapa tahu didoakan seperti itu. Insya Allah tokcer nembus langit ke tujuh.
di panti asuhan kita bisa mengetahui siapa aja yang emang suka anak kecil (atau yang pedofil)
Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah anak2 yang telah kami kunjungi itu cukup menimbulkan kesan bagi gue. Mereka masih bisa berbahagia dan bersyukur di kala (kemungkinan) hidup mereka nggak seberuntung gue. Sedangkan gue terkadang masih suka galau dan ngeluh ketika Allah memberikan sedikit permasalahan ke gue. Banyak tugas ngeluh, mata kuliah bikin pusing ngeluh, proposal permohonan KP nggak di-approve ngeluh, disuruh push up ngeluh, ngejomblo ngeluh (loh??). Padahal anak2 itu lebih dihadapkan ke situasi yang lebih sulit. Mungkin orang tua mereka kesulitan dana, mungkin mereka nggak bisa ngelanjutin sekolah lagi, atau mungkin mereka sudah ditinggal orang tua di usia sekecil itu.
Apapun, gue bisa belajar bersyukur dari anak2 kecil seperti mereka. Dan yang paling penting dari semua kisah ini adalah gue tahu harus ke mana supaya lancar jodoh.
tampak gue, mbah, madya, dan ajay menutupi spanduk yang harusnya terlihat dalam foto ini
