Hari 1 (Senin 23 Mei 2011)
Pukul 5 pagi, aku beserta mahasiswa S1 dan S2 Teknik Geofisika ITB yang lain telah bersiap-siap di Stasiun KA Bandung untuk bertolak ke Kebumen. Yap kami semua akan melakukan kuliah lapangan di Karangsambung, Kebumen yang terletak di provinsi Jawa Tengah. Sejujurnya rasa kantuk masih tak tertahankan karena semalaman aku tidak bisa benar-benar beristirahat akibat gelisah tanpa sebab. Tapi kegelisahan itu akhirnya terjawab, sekitar jam 4 pagi, secara mendadak tempat keberangkatan dipindah dari awalnya di Stasiun Kiaracondong ke Stasiun Hall! Alasannya ratusan suporter Persebaya atau yang terkenal dengan julukan Bonek sedang berada di Stasiun Kircon. Sudah tahu kan semuanya kelakuan mereka kalau lagi rame-rame gitu? Jadi untuk menghindari hal yang tak diinginkan, kita akhirnya pindah posisi.
Padahal waktu itu aku sengaja menginap di kosan teman a.k.a Dipta Yudhistira yang posisinya nggak jauh-jauh dari Stasiun Kircon. Akhirnya setelah ngucek-ngucek mata memastikan nggak lagi mimpi ngeliat SMS “kejutan”, aku langsung bersiap-siap untuk gosok gigi dan cuci muka seadanya. Lalu aku membangunkan Dipta yang masih tidur untuk mengantarkan aku ke stasiun. Perubahan rencana mendadak memang jarang berakhir bahagia.
Singkat cerita, aku dan rombongan berangkat dari stasiun sekitar jam 8 pagi. Bagus kan? dua jam-an menunggu di stasiun karena berbagai macam problematika klasik yang tak perlu disampaikan. Kami menaiki gerbong kereta kelas ekonomi, sejujurnya itu pengalaman pertama aku naik kereta yang kelas ekonomi. Ternyata keadaannya nggak seburuk yang diceritakan sama orang-orang, kondusif aja tuh buktinya.
Di awal perjalanan, semuanya masih bersenang-senang. Ada yang ketawa-ketawa, bercanda, merekam perjalanan di kereta dengan handycam, atau main game. Pokoknya atmosfir bahagia deh, hahaha. Bahkan ada seorang teman yang mendapatkan buku teka-teki silang (tahu kan wujudnya? Itu tuh yang ada gambar cewek dengan pose-pose yang “menantang”, haha). Tapi momen terbaik dari iseng-iseng ngisi tts itu tak lain tak bukan datang dari togi alias sang briptu norman dari terra. Gile aja! secara aku, nunu, hanif bokep (dan ditambah sedikit bantuan dari paksin) udah ngeroyok satu halaman tts tetap aja ada kosongnya, lah dia pas turun tangan sendiri, satu halaman tau2 udah penuh aja! selidik punya selidik, ternyata togi adalah atlet kejurnas mengisi tts se-indonesia sobat! Gimana nggak? tau nggak kalian istilah lain belut, 3 kotak?? dan si anak ajaib ini bisa menjawabnya, jawabannya adalah MOA!
Dan petaka itu datang juga. Ternyata semakin siang isi kereta tempat kita duduk makin tak kondusif. Panas, pengap, lapar, terinjek2, bau bercampur jadi satu. This is the REAL economy class! yeah! Yak, singkat cerita kita semua udah nyampe di stasiun kebumen jam setengah 4 sore. Sambil setengah menahan pegel2 akibat cuma duduk doang di kereta, kita langsung ke bis2 yang sudah menunggu untuk mengantar kita ke Karangsambung. Di luar perkiraan, ternyata perjalanan ke sana cuma menghabiskan waktu sekitar setengah jam (perkiraan awal 1 jam lebih). Kita menginap di asrama milik LIPI selama di sana. Setibanya di sana, aku langsung nyari kamar buat melepas lelah dan akhirnya aku, hanif bokep, dias, dan arif menjadi penghuni kamar asrama totogan 11. Hari itu nggak ada banyak hal yang bisa dikerjakan. Setelah istirahat dan bersih2, kita semua makan malam dan mengikuti kuliah (walaupun dengan hati berat).
Hari 2-7 (24-29 Mei 2011)
The true adventure begins! Yap, hari pertama semua peserta karsam masih dipenuhi dengan ekspektasi membuncah di dada. Setelah sarapan, kita mengulang kembali tentang ilmu medan peta dan kompas (bahasa gaolnya IMPK) serta orientasi dalam geologi. Hari itu kami didampingi oleh pak budi, seorang dosen geologi. Setelah sekitar 1 jam kita mempelajari ulang tentang hal tersebut, kita langsung capcus ke lapangan. Dan tahukan anda sodara2? dalam sekejap semangat ala pejuang kemerdekaan saya di awal cuma bertahan sekitar 3 jam! gimana nggak?? ternyata panasnya karangsambung nggak ada lawannya cuy! Bahkan buat orang yang belasan tahun tinggal di Balikpapan yang notabene daerah panas seperti saya pun dipaksa angkat tangan. ampuunn DJ!!! Pokoknya buat orang2 yang mau kulitnya lebih eksotis, saya recommend banget lah untuk pergi ke karangsambung. Trust me!
Karena panas yang luar biasa itu juga aku bener2 nggak fokus seharian. Ditambah juga selama perjalanan itu kita nggak cuma sekedar jalan aja, kita disuruh nge-deskripsikan singkapan batuan yang ditemui woi! FYI, ini pertama kalinya buat kita ngerjain hal beginian. Kalo buat geologis sih yang kayak gini emang udah kerjaannya, mungkin udah jadi semacam “sarapan” rutin kali ya. Tapi berhubung 6 hari pertama kita harus belajar geologi karangsambung, mau nggak mau kita juga harus bekerja layaknya geologis.
Dan benar saja, selama 6 hari itu kita bener2 “digembleng” untuk bisa menjadi geologis. Singkatnya, selama 6 hari itu aku jadi tersadar bahwa jadi seorang geologis itu ternyata nggak gampang dan emang terbukti keras. Kita dituntut untuk bisa fokus dalam hal otak, mental,dan fisik selama perjalanan. Yah mungkin ada beberapa orang yang nyebut kalo mereka itu kerjanya cuma ngetok2 batu atu mirip kuli karena kerjanya di lapangan, tapi seandainya orang2 itu langsung ngerasain di lapangan, ane jamin dah pandangan macam itu langsung hilang. Yah walopun capeknya pol-polan, tapi jujur sih dari 6 hari itu ilmu geologiku jadi nambah banget. Emang ya cara terbaik untuk memahami ilmu itu dengan cara melakukannya langsung, walaupun itu dengan terpaksa. hahaha
Yang paling berkesan dari kuliah geologi ini sebenernya ada di hari pertama. Waktu itu aku bener2 kaget banget karena baru hari pertama tapi kita udah “digenjot” banget fisik plus ilmu geologinya. Udah gitu dosen hari itu alias pak budi semangat banget jalannya, sampe2 kita yang masih muda nggak jarang ditinggal waktu jalan. Gila lah pokoknya, capeknya bikin tulang, otot, sendi serasa rontok semua. Tapi semua capek hilang waktu kita ke puncak Wagir Sambeng. Subhanallah banget lah waktu ngeliat pemandangan dari puncak situ! Dari sana serasa kita bisa ngeliat semua daerah Karangsambung yang rupanya super duper eksotis. Ada view gunung paras sama gunung waturanda plus lembah di tengah2nya yang mantep banget, ditambah lagi view sungai luk ulo yang melingkar2 secara elegan mengitar kedua gunung tadi. Bener2 klasik lah, nggak ada lawannya.
Ada lagi waktu kita ketemu singkapan rijang di dekat puncak Wagir Sambeng tadi. Anehnya, kan rijang tu diendapkan di laut dalam tapi kok bisa ketemu singkapannya di atas puncak bukit? nah loh! Awalnya aku kira malah itu bukan singkapan rijang, tapi cuma batang pohon yang numpang nancep di puncak bukit (dasar orang sarap). Selain itu dari kuliah geologi itu, aku juga (makin) sadar kalo geologi dan geofisika itu bener2 saling melengkapi. Banyak lah cerita dan hikmah di balik kuliah geologi selama 6 hari itu, meskipun ngejalaninnya (sangat) nggak segampang ngomonginnya.
menunggu Pak Fatkhan ngebunyiin lonceng makan, ting ting ting…
Hari ke 8-12 (30 Mei-3 Juni 2011)
Setelah berjibaku dengan geologi, di 5 hari penghabisan ini kita akan lebih mendalami tentang aplikasi teknik geofisika. Yang paling membahagiakan dari kuliah lapangan geofisika ini adalah kita jauh lebih saaanss alias nyantai bangettt! Kalo biasanya kuliah geologi mulai jam 8 pagi pulang jam 6 sore, kalo geofisika mulai jam 8 pulang bisa makan siang di asrama! Pokoknya bahagianya tak terkira lah, mungkin jauh lebih bahagia daripada bahagianya messi ngangkat trofi liga champion. Soalnya panasnya bener2 luar biasa ditambah medan yang bukan medan untuk manusia kota. So, sejak hari itu aku bisa merasakan nikmatnya tidur siang di karsam. huahaha
Bahkan beberapa teman2 ada yang memanfaatkan waktu yang sangat luang itu dengan berusaha menaklukkan puncak tertinggi di Karangsambung, yaitu Gunung Paras. Walaupun tingginya cuma 500 meter-an, tapi medannya punya tantangan tersendiri karena jalur pendakiannya luar biasa sulit. Sebenernya ada jalur yang lebih mudah tapi sayangnya kebanyakan pada nggak tahu soal ini. Ada juga yang mengisi waktunya dengan menggalau ria, main bola, dsb.
Semakin mendekati hari kembali ke bandung, aku malah ngerasa agak sedih juga. Emang sih yang namanya perpisahan pasti nggak jauh2 dari sedih. Cara menghilangkan perasaan itu? gampang. Aku langsung ngebayangin gimana panasnya karsam dan pegelnya badan di sini. Dalam sekejap aku langsung pengen cepet2 sampe di bandung. Oh iya, selama di karsam aku dan anak2 yang lain juga suka mampir ke warung yang ada di dekat LIPI. Menu andalan : PANSUS alias panta susu! Itu sebenernya soda gembira tapi pake soda yang ada rasa stroberinya (tau kan merknya apa? hehe). Di sana minum pansus udah serasa nemu emas satu kilo, segernya seolah bisa membelah teriknya mentari di karsama. Paling pas diminum kalo udah selesai kuliah lapangan alias di sore hari. Apalagi kalo ditambah mie rebus atau goreng..beehhh! rasanya dunia udah ada di genggaman tangan bro!
berfoto dengan latar gunung paling terkenal selama karsam, Gunung Brujul
Hari terakhir (4 Juni 2011)
Akhirnya kita harus berpisah karsam, hiks…(nangis bo’ongan padahal aslinya girang banget). Berakhir sudah kebahagiaan (baca : penderitaan) ini. Nggak ada lagi menu yang itu2 aja alias nasi tahu tempe, nggak ada lagi teror tugas, nggak ada lagi ancaman2 buat yang telat. Tapi emang sih semua itu nggak ada apa2nya kalo dibandingkan kenangan yang didapat. Kebersamaan dan kekeluargaan rasanya sudah terpupuk dengan sendirinya di sini (yang ini beneran, sius menn!). Okey karsam, semoga suatu hari kita bisa bertemu lagi (tentunya bukan dengan status sebagai peserta kuliah lapangan lagi).
inilah tampang pejuang karsam 2011
